Berhasil atau Beruntung? Bagaimana Impostor Syndrome Mengaburkan Batas Fakta dan Keraguan
Holaa, Mentari’s! Pasti masih asing kan mendengar tentang Impostor Syndrome. Impostor Syndrome sebenarnya sudah lama dibahas, namun masih belum banyak penelitian yang membahas tentang Impostor Syndrome. Nah, maka dari itu yuk kita bahas tentang Impostor Syndrome dengan Mintari di sini.
Apa itu Impostor Syndrome?
Impostor Syndrome pertama kali diteliti oleh psikolog klinis yaitu Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes pada tahun 1978. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita berprestasi memiliki pola pikir dimana mereka merasa tidak layak atas kesuksesan mereka. Individu dengan Impostor Syndrome akan merasa bersalah dan kesulitan mengakui kesuksesan atau keberhasilan mereka, sehingga mereka biasanya mengaitkan kesuksesan atau keberhasilan itu karena suatu keberuntungan atau bantuan dari orang lain.
Bagaimana kita mengenali karakteristik Impostor Syndrome?
Menurut Ati dkk. (2015), individu dengan Impostor Syndrome dapat dikenali lewat karakteristik sebagai berikut
Memulai pekerjaan lebih awal tetapi proses penyelesaiannya lama
Saat meraih prestasi, tidak mau mengakui dan menganggap itu sebuah keberuntungan
Perasaan takut akan kegagalan
Perasaan takut dianggap penipu karena tidak sesuai ekspektasi orang lain
Mengapa Impostor Syndrome bisa terjadi?
Menurut Saputri & Khoirunnisa (2024), terdapat beberapa faktor eksternal dan internal yang memengaruhi individu yang mengalami Impostor Syndrome diantaranya:
Faktor Eksternal
Lingkungan keluarga, individu yang berasal dari keluarga yang jarang memberikan apresiasi dan merasa tidak puas dengan pencapaian individu akan membentuk rasa kurang percaya diri dengan kemampuannya, memilih untuk mengikuti standar keluarganya dan selalu berpikir bahwa dirinya selalu kurang.
Lingkungan akademik, karena keluarga selalu nggak puas sama hasil pencapaian individu, maka dia ingin membuktikan ke keluarganya kalau dia bisa dan mampu melalui hasil akademiknya. Hal ini memunculkan jiwa kompetitif sehingga dia fokus dengan nilai daripada proses.
Dukungan sosial, kalau dia tidak mendapatkan dukungan orang lain maka dia berusaha untuk memenuhi harapan orang lain dan membuat dia merasa tertekan.
Faktor Internal
Perfeksionisme maladaptif, menyebabkan ketidakpuasan, penundaan, dan peningkatan tekanan psikologis.
Gaya adaptasi, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan atau budaya baru dapat menurunkan harga diri dan meningkatkan risiko depresi.
Faktor demografis, perempuan lebih rentan mengalami Impostor Syndrome karena stereotip gender yang menganggap perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, fluktuasi hormonal, dan kurangnya representasi dalam kepemimpinan.
Apa Saja Dampak dari Impostor Syndrome dalam Kehidupan Karir dan Akademik?
Siswa dengan Impostor Syndrome cenderung berprestasi buruk dan mengalami kecemasan meskipun nilai tidak berbeda.
Rendahnya kepercayaan diri dan kepuasan dalam pencapaiannya.
Rasa takut gagal dan takut sukses mengurangi perencanaan karir dan motivasi kepemimpinan.
Kinerja dan kepuasan kerja menurun.
Burn-out dan keletihan emosional.
Impostor Syndrome Ada Solusinya Nggak Sih?
Menurut Bravata, dkk. (2019) solusi dalam menangani Impostor Sydrome adalah:
Memvalidasi perasaan individu.
Menangani langsung ketakutan akan kegagalan.
Melakukan terapi kelompok untuk mengurangi isolasi diri.
Mencari dukungan psikologis dan melakukan terapi (contohnya: CBT).
Ati, E. S., Kurniawati, Y., & Nurwanti, R. (2015, Desember). Peran Impostor Syndrome dalam Menjelaskan Kecemasan Akademis pada Mahasiswa Baru. Jurnal Mediapsi, 1(1), 1-9. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2015.001.01.1
Bravata, D. M., Watts, S. A., Keefer, A. L., Madhusudhan, D. K., Taylor, K. T., Clark, D. M., Nelson, R. S., Cokley, K. O., & Hagg, H. K. (2019). Prevalence, Predictors, and Treatment of Impostor Syndrome: a Systematic Review. J Gen Intern Med, 35(4), 1252-1275. 10.1007/s11606-019-05364-1
Saputri, M. D., & Khoirunnisa, M. (2024, Desember). Factors that Contribute to Individuals Experiencing Impostor Syndrome: A Systematic Review. The International Journal of Indian Psychology, 12(4), 141-149. https://ijip.in/wp-content/uploads/2024/10/18.01.015.20241204.pdf
Komentar
Posting Komentar