Postingan

Kenapa Sulit Mengatakan Tidak? Yuk, Pahami Pola People Pleaser!

Haloo Mentari’s! Pernah nggak sih merasa lelah karena terlalu sering bilang "iya"? Sebenarnya mau menolak, tapi ada rasa nggak enak, takut mengecewakan, atau khawatir dianggap nggak peduli. Akhirnya, lagi-lagi mengalah. Lagi-lagi kebutuhan sendiri dikesampingkan. Mungkin banyak dari Mentari’s yang pernah merasakan perasaan seperti itu, tapi kira-kira kenapa yaa perasaan itu muncul?   Perasaan nggak enak untuk melakukan penolakan sering kali berkaitan dengan pola people pleaser, yaitu kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan diri sendiri. Kalau dilihat sekilas, perilaku ini nggak jauh beda sama sikap yang baik dan penuh empati. Tapi, kalau dorongan untuk menyenangkan orang lain menjadi kebutuhan yang terus-menerus, dampaknya bisa menguras energi emosional dan menghilangkan batasan pribadi.   Lalu, kenapa mengatakan "tidak" rasanya sangat sulit? Apa yang sebenarnya terjadi di balik itu? Nah, hari ini, Mintari mau mengajak kam...

RUMAH MENTARI'S 13TH ANNIVERSARY

Gambar
Woops! Layanan Psikologi Rumah Mentari is Turning 13th Birthday! Tepat di hari Selasa, 13 Januari 2026 lalu, Layanan Psikologi Rumah Mentari genap berusia 13 Tahun lhoo, Mentari's! Bagi Rumah Mentari, usia bukanlah hanya sebuah angka. Tiga belas tahun merupakan sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang tidak singkat, tidak selalu mudah, namun setiap langkah demi langkah dilalui dengan penuh makna, tanggung jawab, dan komitmen untuk terus hadir dan memberikan ruang aman bagi sesama. Sejak awal berjalan, Layanan Psikologi Rumah Mentari hadir bagaikan sebuah "jembatan". Jembatan bagi proses mendengar tanpa menghakimi, memahami dengan empati, serta mendampingi proses pertumbuhan dan pemulihan diri. Sesuai dengan slogan Rumah Mentari yaitu, "S haring, Growing, and Loving" , kami percaya bahwa setiap cerita memiliki makna, dan setiap individu pantas untuk memiliki ruang aman dalam menuturkan perasaannya dan bertumbuh dengan baik. Karena selama proses perjalanan panja...

SELF CARE TO MYSELF: TAKE CARE OF YOUR SELF, IT MATTERS!

Oleh: Oktariana Indrastuti, M.Psi., Psikolog Hola, Mentari’s! Gimana kabarnya? Rasanya sudah cukup lama, yaa, sejak terakhir mintari menyapa Mentari’s tiba-tiba sudah masuk tahun 2026 saja. Begitu banyak proses perjalanan yang telah dilewati di tahun 2025. Harapannya di tahun 2026 membawa lebih banyak kebahagian untuk terus bertumbuh dan hal-hal baik yang  penuh makna ya, Mentari's! Okey, spesial di tahun baru kali ini, mintari akan bahas salah satu topik yang seringkali jadi tantangan bagi diri sendiri. Yaps, tentang bagaimana cara merawat kesehatan mental diri sendiri. Materi ini disampaikan oleh Ibu Oktariana, M.Psi., Psikolog pada Seminar Kesehatan Mental dengan judul “Self Care to Myself: Take Care of Your Self, It Matters!” di Hotel Aruss Semarang, pada tanggal 21 Desember 2025 yang dilaksanakan oleh Tim Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Jakarta.  Taukah Mintari's, kalau kesehatan mental itu merupakan salah satu aspek pen...

Kenapa Gen Z Gampang Banget Overthinking?

Hai haii, Mentari's! Sering denger dong, yaa, soal overthinking?! Overthinking sebenarnya bukan hal baru, tapi belakangan fenomena ini makin sering ditemui pada Gen Z. Banyak mahasiswa dan remaja cerita kalau mereka susah berhenti mikirin hal-hal kecil, takut salah, khawatir soal masa depan, dan capek secara emosional. Kalau dalam psikologi, overthinking dikenal sebagai rumination atau excessive worry. Jadi bukan cuma “kebanyakan mikir,” tapi pola pikir yang muter-muter dan bisa ngaruh ke kesehatan mental. Kenapa bisa begitu, yaaa? Jadi makin penasaran, kan? Yuk bahas bareng mintari di sini. Apa Sih Overthinking Itu? Dalam teori psikologi kognitif, overthinking masuk ke maladaptive rumination, yaitu sebuah pola berpikir negatif yang terus berulang dan susah dihentikan. Kalau dibiarkan, rumination bisa memperpanjang stres, bikin cemas, sampai memicu depresi. Peneliti Indonesia juga sudah sering banget nemuin pola ini. Contohnya, Studi Anggraeni & Siswati (2018) bilang remaja ya...