Kenapa Sulit Mengatakan Tidak? Yuk, Pahami Pola People Pleaser!
Haloo Mentari’s! Pernah
nggak sih merasa lelah karena terlalu sering bilang "iya"? Sebenarnya
mau menolak, tapi ada rasa nggak enak, takut mengecewakan, atau khawatir dianggap
nggak peduli. Akhirnya, lagi-lagi mengalah. Lagi-lagi kebutuhan sendiri
dikesampingkan. Mungkin banyak dari Mentari’s yang pernah merasakan perasaan
seperti itu, tapi kira-kira kenapa yaa perasaan itu muncul?
Perasaan nggak enak
untuk melakukan penolakan sering kali berkaitan dengan pola people pleaser, yaitu kecenderungan
untuk selalu menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan diri
sendiri. Kalau dilihat sekilas, perilaku ini nggak jauh beda sama sikap yang baik
dan penuh empati. Tapi, kalau dorongan untuk menyenangkan orang lain menjadi
kebutuhan yang terus-menerus, dampaknya bisa menguras energi emosional dan menghilangkan
batasan pribadi.
Lalu, kenapa
mengatakan "tidak" rasanya sangat sulit? Apa yang sebenarnya terjadi
di balik itu? Nah, hari ini, Mintari mau mengajak kamu mengenal lebih jauh
tentang fenomena people pleaser. Yuk, kita bahas bareng alasan di
balik sulitnya menolak dan gimana dampaknya terhadap kesehatan mental dan
relasi kita sehari-hari.
Apa itu People
Pleaser?
People pleasing adalah kecenderungan seseorang
untuk secara berlebihan berusaha menyenangkan orang lain demi memperoleh
penerimaan, menghindari konflik, atau mencegah penolakan. Seseorang dengan pola
ini cenderung memprioritaskan kebutuhan, harapan, dan perasaan orang lain
dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri. Dalam banyak situasi, mungkin bisa
sampai mengorbankan batasan pribadi, menekan emosi, atau menyetujui sesuatu
yang sebenarnya tidak diinginkan demi menjaga keharmonisan hubungan.
Perilaku ini sering
kali didorong oleh rasa takut tidak disukai, kekhawatiran dianggap egois, atau
kebutuhan kuat untuk mendapatkan validasi eksternal. Dalam jangka panjang, people
pleasing dapat berdampak pada kelelahan emosional, hilangnya kejelasan
identitas diri, kesulitan menetapkan batasan (boundaries), serta
munculnya perasaan tertekan atau tidak dihargai.
Dengan demikian, people
pleasing bukan sekadar sikap ramah atau empatik, melainkan pola relasional
yang membuat seseorang menomorduakan dirinya sendiri secara konsisten demi
kenyamanan orang lain.
Kenapa Sulit Mengatakan
Tidak?
Bagi orang dengan
kecenderungan people pleaser, mengatakan “tidak” bukanlah hal yang sederhana.
Sebelum keputusan diambil, sering kali muncul rasa cemas, bersalah, atau takut
dinilai negatif. Pikiran dipenuhi bayangan tentang kemungkinan konflik, perubahan
sikap orang lain, atau rusaknya hubungan yang sudah terjalin. Akibatnya, meskipun
tubuh lelah atau sebenarnya tidak sanggup jawaban yang diberikan tetap “ya”
atau “boleh saja”.
Penelitian Hayati & Haryadi, (2024) menunjukkan
adanya korelasi yang sangat kuat antara people pleasing dan attachment.
Artinya, semakin tinggi kebutuhan kelekatan emosional seseorang, semakin besar
pula kecenderungannya untuk menyenangkan orang lain. Seseorang dengan pola
kelekatan yang tidak aman cenderung takut kehilangan hubungan, sehingga menolak
permintaan terasa seperti ancaman terhadap kedekatan tersebut.
Selain itu, penelitian Marianti, dkk (2026) menemukan
bahwa perilaku people pleaser berkaitan dengan meningkatnya tekanan
psikologis, kecemasan sosial, dan rendahnya harga diri pada remaja. Individu
cenderung mengorbankan kebutuhan pribadi agar tetap diterima dalam lingkungan
sosialnya. Kondisi inilah yang membuat mengatakan “tidak” terasa seperti
ancaman terhadap penerimaan sosial dan kestabilan hubungan.
Mau
tau alasan lebih lengkapnya? Yuk, simak penjelasan Mintari!
a. Kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan
sosial
People pleaser sangat terdorong untuk memberikan
kesan baik, diterima, dan dihargai oleh orang lain. Menolak permintaan sering dianggap
beresiko merusak hubungan atau citra diri, sehingga mereka lebih memilih mengatakan
“ya” meskipun sebenarnya keberatan.
b. Rendahnya kepercayaan diri dan rasa
takut konflik
Mereka cenderung merasa kurang yakin
dengan pendapat sendiri dan khawatir dinilai negatif. Ketakutan akan penolakan,
kritik atau ketegangan dalam hubungan membuat mengatakan ”tidak” terasa mengancam.
c. Kurangnya self-boundaries (batasan
diri)
Tidak adanya batasan yang jelas antara
kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain membuat mereka mudah mengorbankan diri.
Mereka sering merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, sehingga menolak
dianggap sebagai tindakan yang salah atau egois.
Nah, jadi apa aja
sih dampak dari selalu menyenangkan orang lain?
Perilaku people
pleaser seringkali dianggap sebagai bentuk keramahan. Namun secara
psikologis, keinginan berlebihan untuk memuaskan orang lain memiliki dampak
serius bagi kesehatan mental seseorang. Menurut Alfahmi, dkk (2024), people pleaser berdampak
pada kondisi psikologis seseorang, diantaranya:
a. Gangguan emosional dan mental
Seseorang dengan kecenderunan ini sering
mengalami kecemasan mendalam yang diakibatkan oleh pikiran-pikiran negatif yang
menguasai mereka. Kondisi ini berpotensi menebabkan stres tinggi serta
meningkatkan tingkat sensitivitas terhadap lingkungan sekitar. Pengorbanan diri
terus-menerus demi kepentingan orang lain, pada akhirnya akan merusak
kesejahteraan mental.
b. Resiko eksploitasi dan kelelahan
Sikap yang terlalu sering meng
"iya"-kan keinginan orang lain tanpa batasan diri membuat seseorang
mudah dimanfaatkan. Hal ini membuka peluang bagi orang lain untuk
mengeksploitasi kerelaan mereka. Dampaknya, kebutuhan pribadi menjadi
terabaikan yang kemudian menimbulkan kerugian nyata dan rasa lelah yang luar
biasa bagi seseorang.
c. Hambatan dalam komunikasi dan
interaksi
Seorang people pleaser
umumnya memahami kesulitan besar untuk menolak permintaan atau situasi yang
tidak mereka inginkan. Mereka sulit mengungkapkan pendapat pribadi dan memiliki
kebiasaan meminta maaf secara berlebihan tanpa alasan yang jelas, bahkan ketika
mereka tidak melakukan kesalahan apapun.
d. Kesulitan
memprioritaskan diri
Dampak psikologis lainnya adalah
ketidakmampuan seseorang untuk menempatkan kepentingan dirinya dahulu. Meskipun
menjaga hubunagn baik adalah hal positif, namun terlalu banyak berkorban akan
menjadi beban emosional yang berat. Belajar untuk menolak keinginan orang lain
merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan mental dan menghindari
eksploitasi dari orang lain.
Selanjutnya, Mintari akan
membagikan strategi untuk mengatasi sulit mengatakan “tidak”. Apa aja yaa?
a. Latihan asertivitas
Asertif merupakan pendekatan dalam
terapi perilaku yang bertujuan untuk membantu individu mengekspresikan emosi,
seperti perasaan, pikiran, dan kebutuhan untuk menolak tanpa merasa bersalah, serta
kecenderungan untuk menyenangkan orang lain.
b. Menetapkan self- Boundaries
(batasan diri)
Self- Boundaries merupakan batasan yang membantu
individu agar lebih aman dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan memiliki self-
Boundaries, individu dapat belajar kapan harus menolak permintaan orang
lain dan kapan harus membantu orang lain.
c. Teknik Cognitive Restructuring
Cognitive Restructuring merupakan teknik yang dapat
mengubah pola- pola pikiran, asumsi, keyakinan individu dengan cara mengubah
pikiran- pikiran negatif menjadi pikiran positif. Langkah- langkah teknik
cognitive restructuring yaitu, identifikasi pikiran negatif, evaluasi, dan merubah
pikiran menjadi realistis serta adaptif.
Mentari’s! Sangat penting untuk menemukan keseimbangan antara memberi kepada orang lain dan menerima untuk diri sendiri, juga mulai belajar mengutamakan kesejahteraan pribadi terlebih dahulu.
Sumber
Alfahmi, R. R., Fateha, S. R., Syarifatulmillah, W. P., Lestari, F., &
Hamidah, S. (2024). KAJIAN MENDALAM MENGENAI PEOPLE PLEASER DAN DAMPAK
PSIKOLOGIS PADA PELAKUNYA Rivasya. Finweek. http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=bth&AN=54967176&site=ehost-live
Cole, T. (2021). Boundary Boss (1st
ed.). PT Gramedia Pustaka.
Hayati, S. A., & Haryadi, R. (2024).
Bulletin of Counseling and Psychotherapy 100 Korelasi Antara People Pleasing
dengan Attachment Pada Siswa SMA Negeri 12 Banjarmasin. Ghaidan Jurnal
Bimbingan Konseling Islam & Kemasyarakatan Bulletin of Counseling and
Psychotherapy, 100–107. https://doi.org/10.19109/8htjfk32
Jannah, F., Ningrum, Z. B., Danendra, N.
D., Yusel, M. S., & Yunita, M. (2025). EFEKTIFITAS KONSELING ASERTIF DALAM
MENGURANGI TEKANAN SOSIAL PADA MAHASISWA DENGAN POLA PEOPLE PLEASING: STUDI
KASUS. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(04), 378–387.
Marianti, L., Mawaddah, N. N., Kusuma,
T., Nufus, H., & Syahlan, M. (2026). Pengaruh People Pleaser terhadap
Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial pada Remaja. 10, 3776–3782.
Ramayani, N., Noviza, N., &
Marianti, L. (2025). Penerapan Teknik Cognitive Restructuring untuk Mereduksi
Perilaku People Pleaser (Studi Kasus pada Klien “A” di Sentra Budi Perkasa
Palembang). Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(2),
8620–8626. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i2.3281
Sholekah, L., Nawantara, R. D., &
Sancaya, S. A. (2021). Penerapan Teknik Cognitive Restructuring Untuk
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Prosiding Konseling Kearifan Nusantara
(KKN), 1(1), 26–31.
https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/kkn/article/view/1387%0A
Zalika, F. R., & Nisa, A. T. (2024).
The Relationship between Self Boundaries and People Pleaser Behavior in Islamic
Guidance and Counseling Students at UIN Raden Mas Said Surakarta / Hubungan
Self Boundaries Terhadap Perilaku People Pleaser Pada Mahasiswa Bimbingan dan
Konseling Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta. Al-Hiwar Jurnal Ilmu Dan
Teknik Dakwah, 12(2), 15–25.
https://doi.org/10.18592/alhiwar.v12i2.14355
Komentar
Posting Komentar