Kenapa Gen Z Gampang Banget Overthinking?

Hai haii, Mentari's! Sering denger dong, yaa, soal overthinking?! Overthinking sebenarnya bukan hal baru, tapi belakangan fenomena ini makin sering ditemui pada Gen Z. Banyak mahasiswa dan remaja cerita kalau mereka susah berhenti mikirin hal-hal kecil, takut salah, khawatir soal masa depan, dan capek secara emosional.

Kalau dalam psikologi, overthinking dikenal sebagai rumination atau excessive worry. Jadi bukan cuma “kebanyakan mikir,” tapi pola pikir yang muter-muter dan bisa ngaruh ke kesehatan mental. Kenapa bisa begitu, yaaa? Jadi makin penasaran, kan? Yuk bahas bareng mintari di sini.

Apa Sih Overthinking Itu?


Dalam teori psikologi kognitif, overthinking masuk ke maladaptive rumination, yaitu sebuah pola berpikir negatif yang terus berulang dan susah dihentikan. Kalau dibiarkan, rumination bisa memperpanjang stres, bikin cemas, sampai memicu depresi. Peneliti Indonesia juga sudah sering banget nemuin pola ini.

Contohnya, Studi Anggraeni & Siswati (2018) bilang remaja yang suka ruminasi cenderung punya kecemasan dan depresi lebih tinggi. Penelitian Pitaloka & Safitri (2019) juga nemuin bahwa mahasiswa yang perfeksionis dan suka mengkritik diri sendiri lebih gampang overthinking ketika ada tuntutan akademik. Yaps, artinya overthinking bukan cuma kebiasaan, tapi pola pikir yang beneran berdampak ke emosi.


Terus, Kenapa Gen Z Lebih Rentan Overthinking?


Ada beberapa penyebab yang sering muncul:

1. Kebanjiran Informasi dan Distraksi Digital

Gen Z hidup di timeline yang nggak pernah berhenti bergerak. Scroll dikit, sudah ketemu pencapaian orang lain, drama, perbandingan sosial, sampai FOMO. Akhirnya otak capek, dan pikiran negatif makin gampang muncul.


2. Tekanan Akademik dan Masa Depan

Tugas menumpuk, ekspektasi tinggi, dunia makin nggak pasti. Nggak heran banyak pelajar mikir masalahnya sampai berlebihan karena mereka merasa nggak punya kontrol penuh terhadap hidup mereka.


3. Perfeksionisme

Perfeksionisme maladaptif bikin seseorang:

  • takut salah,

  • takut dinilai buruk,

  • mengulang-ulang keputusan karena ingin semuanya sempurna.

Nah, bisa kebayang kan gimana capeknya?


4. Kurang Self-Compassion

Orang yang susah menerima dirinya sendiri cenderung lebih gampang stres dan terjebak dalam rumination.

Lalu, Apa ya Dampak Overthinking ke Kesehatan Mental?


Overthinking yang terjadi terus-terusan bisa ngasih efek serius, seperti:

  • Meningkatkan Kecemasan dan Depresi. Hubungan yang kuat antara rumination dan gejala depresi hingga kecemasan dapat membuat gen Z lebih mengalami rentan.
  • Menurunkan Fokus dan Produktivitas. Itu bisa terjadi kayak otak terus muter di pikiran yang sama kayak laptop hang, terasa stuck dan cuma stay disitu-situ aja.
  • Gangguan Tidur. Banyak mahasiswa mengalami bedtime rumination yang akhirnya bikin mereka ngalamin insomnia.

Jadi Gimana dong, Cara Mengatasi Overthinking?

Beberapa strategi psikologis yang sudah terbukti efektif di antaranya:


A. Mindfulness

Latihan mindfulness selama 4 minggu terbukti menurunkan kecemasan dan ruminasi. Manfaatnya:
  • bikin kita balik ke momen sekarang,

  • pikiran lebih terarah,

  • nggak gampang hanyut dalam pikiran negatif.


B. Self-Compassion

Intinya: memperlakukan diri seperti sahabat sendiri. Caranya:

  • berhenti menghakimi diri sendiri,

  • belajar memaafkan diri,

  • lebih lembut pada diri saat gagal.

Penelitian Fitri & Widuri (2018) bilang ini bisa nurunin stres dan pikiran berulang, lhoo.


C. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT membantu kita mengenali pikiran otomatis yang negatif, mempertanyakan kebenarannya, lalu menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis. Widyastuti (2019) juga sudah membuktikan kalo CBT ini efektif menurunkan kecemasan dan pikiran obsesif.


D. Journaling

Nulis itu bantu pikiran yang berputar-putar jadi lebih terstruktur. Penelitian Salsabila & Yuniardi (2021) nunjukkin kalau expressive writing bisa mengurangi distress emosional remaja.


E. Kurangi Screen Time

Kalau menurut Rahmawati & Kurniawan (2021), membatasi media sosial dapat menurunkan ruminasi dan kecemasan mahasiswa.


Kesimpulannya?


Overthinking itu nyata, dan banyak Gen Z yang mengalaminya karena hidup di era serba cepat, serba dinilai, serba dibandingkan. Tapi kabar baiknya, overthinking bisa dikelola. Dengan mindfulness, self-compassion, CBT, journaling, dan pengaturan media sosial, kita pelan-pelan bisa belajar keluar dari pola pikir yang bikin capek itu.


Kalau Mentari's sedang overthinking, ingat, Mentari's nggak sendirian. Perasaanmu valid, tapi itu bukan identitasmu. Mentari's bisa belajar pelan-pelan untuk mengelolanya, ya. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya, Mentari's!



Sumber :


Anggraeni, D., & Siswati, S. (2018). Hubungan rumination dengan kecemasan pada remaja. Jurnal Psikologi Indonesia.


Dewi, M. R., & Paramita, A. (2020). Efektivitas mindfulness training terhadap penurunan kecemasan pada mahasiswa. Jurnal Intervensi Psikologi.


Fitri, A. N., & Widuri, E. (2018). Self-compassion dan stres pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.


Lestari, T., & Mahardika, A. (2020). Bedtime rumination dan gangguan tidur mahasiswa. Psikologika.


Oktaviani, R. (2020). Perfeksionisme dan rumination pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Udayana.


Pitaloka, D., & Safitri, W. (2019). Self-criticism dan kecenderungan ruminasi pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Sosial.


Rahmawati, N., & Kurniawan, A. (2021). Pengaruh intensitas media sosial terhadap kecemasan dan ruminasi mahasiswa. Jurnal Psikologi Terapan Indonesia.


Salsabila, N., & Yuniardi, S. (2021). Efektivitas expressive writing terhadap penurunan distress emosional remaja. Journal of Psychological Studies.


Sari, M., & Aminah, S. (2020). Tekanan akademik dan ruminasi pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Pendidikan.


Sitohang, R., & Handayani, E. (2021). Ruminasi dan depresi pada mahasiswa. Jurnal Penelitian Psikologi.


Widyastuti, A. (2019). Terapi CBT untuk menurunkan kecemasan dan pikiran obsesif. Jurnal Intervensi Psikologi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia yang Wajib Diketahui! Lika-Liku Perkembangan Remaja yang Sering Diabaikan