Diet Anak Autis: Tantangan dan Solusi bagi Orang Tua

Halo Mentari’s! Topik kali ini mungkin sangat relate untuk orang tua yang sedang berjuang memahami pola makan anaknya yang istimewa. Jadi, yuk! Kita bahas bareng soal diet anak autis.

Diet untuk anak dengan autisme bukan sekadar tren—banyak penelitian menunjukkan bahwa asupan makanan bisa memengaruhi perilaku, konsentrasi, bahkan keseharian anak. Tapi tentu, menerapkannya nggak selalu mudah. Kali ini, mintari akan bahas seperti apa tantangan diet anak autis dan bagaimana cara orang tua bisa menghadapinya dengan bijak.

Autisme atau Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) dalam DSM-5 (APA,2022) adalah gangguan neurodevelopmental yang ditandai dengan defisit dalam komunikasi sosial serta adanya perilaku, minat, atau aktivitas yang repetitif dan terbatas. Berdasarkan kriteria DSM-5 TR, seseorang harus mengalami gejala sejak usia dini, dan gejala tersebut harus berdampak signifikan pada kemampuan mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam mendukung perkembangan anak dengan autisme, pola makan yang tepat memainkan peran penting, terutama dalam mengelola masalah pencernaan, perilaku, serta keseimbangan emosi. Namun, menerapkan diet khusus untuk anak autis sering kali menjadi tantangan bagi orang tua. Tantangan yang dihadapi meliputi kesulitan dalam menyiapkan makanan khusus, penolakan anak terhadap menu baru, serta terbatasnya pilihan makanan yang sesuai dengan kebutuhan diet mereka. Selain itu, faktor lingkungan juga dapat menghambat konsistensi penerapan diet, misalnya pengaruh dari anggota keluarga lain, makanan yang tersedia di sekolah, atau acara sosial yang menyulitkan pengawasan terhadap asupan makanan anak.

Perilaku makan yang diberikan pada anak autisme tidak tepat berakibat pada permasalahan seperti mengunyah, porsi yang sama dengan makan sebelumnya, atau pola makan yang berulang. Preferensi makanan yang disukai anak berdampak pada mengonsumsi makanan yang disukainya dalam jumlah berlebih. Ketika gluten dan kasein dikonsumsi tidak tercerna dengan sempurna oleh anak autisme menyebabkan aktifnya senyawa jenis pre-opioid (ekosorfin: casomorfin dan glutemorfin). Senyawa ini diserap dan masuk aliran darah yang mengikat pada reseptor opioid otak sehingga berdampak pada ketidakfokusan, kekurangan tidur, dan agresif.

Pola makan yang tidak konsisten seperti mengandung banyak gula, pewarna buatan, atau mengkonsumsi gluten berlebihan dapat menimbulkan lonjakan yang mendalam. Konsumsi gula yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan jamur di usus sehingga mengikat hasil metabolitnya berupa amonia dan toksin yang dapat menginduksi perilaku autisme. Ketika toksin jamur diserap pembuluh darah melalui permeabilitas usus yang abnormal dapat menyebabkan gangguan perilaku seperti perubahan mood, tingkat kefokusan, cemas, maupun tertawa tidak jelas.

Untuk mengatasi berbagai tantangan di atas, terdapat beberapa pendekatan untuk mengatur pola makan atau diet yang dapat diterapkan kepada anak autisme :

1. Diet Gluten Free dan Casein Free

Anak dengan autisme tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang mengandung zat tersebut. Terdapat beberapa makanan yang tidak bisa dikonsumsi oleh Autisme yang mengandung gluten (protein yang terkandung pada gandum dan produk olahannya) serta casein (protein pada susu hewani serta berbagai produk olahan) di dalamnya. Zat tersebut memiliki dampak pada kesehatan serta perilaku berlebihan atau hiperaktivitas anak

2. Meningkatkan asupan Omega-3

Asam lemak omega-3 berperan penting dalam perkembangan otak dan fungsi kognitif pada anak. Asam lemak omega -3 juga sangat penting dalam memelihara neurotransmitter yang diperlukan untuk mempengaruhi perilaku belajar serta dapat meningkatkan perhatian. Selain itu juga dapat membantu meningkatkan respon imun, membantu melawan inflamasi di sistem pencernaan.

3. Mengurangi gula yang terkandung dalam makanan

Konsumsi tinggi gula dapat menyebabkan pertumbuhan jamur (Candida) di dalam usus, sehingga dapat meningkatkan metabolitnya berupa amonia dan toksin, yang dapat menyebabkan perilaku kurang baik pada anak autis.Toksin jamur dapat masuk ke pembuluh darah melalui permeabilitas usus yang abnormal. Hal ini dapat menyebabkan gejala perilaku seperti mood, perhatian atau fokus, cemas, dan tertawa tanpa alasan jelas.

4. Menerapkan pola makan bertahap

Anak-anak dengan autisme tidak dapat mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan casein, jadi penghilangan ini harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari efek samping yang berlebihan. Untuk melakukan ini, harus dimulai menghilangkan casein dari makanan selama tiga minggu dan gluten dari makanan selama tiga bulan.

5. Konsultasi dengan ahli gizi, dokter, dan juga psikolog anak

Orang tua juga sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional medis dan juga psikolog anak. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan diet yang diterapkan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan anak dan tidak menyebabkan defisiensi nutrisi.


Sumber :

American Psychiatric Association. (2022) DSM-5-TR. 5th edn. American Psychiatric Association.

Bagaskorowati, R., Ayesadira, M., Ramadhanti, F., & Sumantri, Vita A, R. (2022). Urgensi Diet Gluten dan Casein Free pada Hiperaktivitas Individu Autisme dan ADHD. Journal of Innovation Research and Knowledge, 1(10), 1399–1404.

Camelia, R., Wijayanti, H. S., & Nisa, C. Studi Kualitatif Faktor yang Mempengaruhi Orang Tua dalam Pemberian Makan Anak Autis. 2019. Jurnal Gizi Indonesia, 7(2), 99-108.

Halimah, H., Sinaga, W., & Insani, N. (2024). Edukasi dan Simulasi Diet GFCF pada Anak Autis dengan Kartu Bergambar Inwilmah. Jurnal BINAKES, 4(2), 54-60.

Raziah, M., Nurdin, A., Fitria, U., Dinen, K. A., & Kurnia, R. (2023). Peran Nutrisi Dan Status Gizi Pada Anak Autisme. Jurnal Public Health, 1–13. http://teewanjournal.com/index.php/phj/article/view/509/239

Safitri, R. K. A., Soeyono, R. D., Sulandjari, S., & Sutiadiningsih, A. (2021). Pengaruh Jumlah Ikan dan Maizena terhadap Sifat Organoleptik Nugget Ikan Kembung (Rastrelliger Kanagurta). Jurnal Tata Boga, 10(1), 122–128.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBUH LEWAT HIPNOTERAPI, EMANG BISA?

Rahasia yang Wajib Diketahui! Lika-Liku Perkembangan Remaja yang Sering Diabaikan