PUTAR KUNCI UNTUK KEMBANGKAN POTENSI: DISLEKSIA ISTIMEWA
(Oleh : Oktariana Indrastuti, M.Psi., Psikolog)
Halo, Mentari's! Aduh, sudah cukup lama ternyata sejak terakhir menyapa blog Rumah Mentari, huhu semoga di masa depan mintari (a.k.a admin Rumah Mentari) bisa lebih adil menyapa Mentari's di berbagai platform, yaaa!
Yess, hari ini mintari kembali dengan materi psikoedukasi dari ibu Oktariana yang sudah sempat disampaikan pada kegiatan "Dyslexia Unlocked" pada bulan Oktober lalu untuk memeringati dan memeriahkan bulan disleksia. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kolaborasi dengan komunitas Orang Tua Berbagi dan StarKiddy. Bolehh Mentari's kalau mau ceki ceki keseruan kita hari itu, silakan langsung cekk di sini, yaaaa! Tapi, tapi, kali ini mintari bakalan menyampaikan soal "disleksia"nya. Jadi, yukk, langsung disimak sampai akhir!
Pada DSM-V, disleksia termasuk ke dalam kategori gangguan belajar spesifik. Di sini, disleksia tidak sendiran, ada juga diskalkulia atau gangguan berhitung dan dispraksia atau gangguan kemampuan motorik. Sebelumnya, yuk, kenalan dengan disleksia. Disleksia diartika sebagai pola kesulitan belajar yang ditandai dengan masalah dalam pengenalan kata yang akurat, penguraian kata yang kurang tepat, dan kemampuan mengeja yang kurang. Jadi, apa penyebabnya? Ibu Oktariana dalam pembahasannya menyebutkan bahwa gangguan belajar spesifik, khususnya disleksia, dapat disebabkan oleh faktor genetik (bahkan jika hanya salah satu orang tua yang mengalami disleksia).
Sebagaimana yang sudah disebutkan, masalah yang umum muncul atau menjadi gejala adalah kesulitan membaca, menulis, serta mengeja ketika anak memulai tahun pertama di sekolah. Anak dengan disleksia mengalami kesulitan dalam kemampuan menyadari bunyi atau memiliki fonology awareness yang rendah. Hal ini menyebabkan anak dengan disleksia kesulitan membaca dan sering dianggap memiliki kemampuan akademik yang rendah.
Padahal Mentari's, biasanya anak dengan disleksia justru memiliki IQ berkategori di atas rata-rata atau bahkan superior, lohh! Anak disleksia hanya mengalami lemah membaca yang tentu saja hal ini berbeda kaitannya dengan taraf intelektual atau IQ. Ibu Oktariana menambahkan bahwa secara neuropsikologis, terdapat hubungan erat antara kesulitan anak dalam membaca, menulis, dan aktivitas lobus prefrontal. Adapun lobus prefrontal dalam diri setiap individu bertanggung jawab dalam keterampilan dalam menyelesaikan masalah, working memory, kemampuan memproses informasi, mempertahankan informasi yang relevan, dan kemampuan menyusul rencana juga strategi. Hal ini membuat secara otomatis kemampuan atau keterampilan-keterampilan tersebut juga ikut terpengaruh dalam diri anak dengan disleksia.
"Terus, terus, mintari, kalau IQ nya rendah beneran berarti termasuknya ke dalam gangguan belajar juga atau gimana?"
Yes, betul sekali. Individu dengan IQ di bawah rata-rata termasuk ke dalam kategori kesulitan belajar umum. Adapun beberapa contoh kesulitan belajar tersebut, yaitu disabilitas intelektual, borderline intelektual, gangguan pendengaran, dan gangguan penglihatan.
Okey, kembali ke disleksia. Lalu, apa ciri-ciri atau gejala konkrit yang muncul pada anak?
Pada usia awal sekolah, beberapa gejala yang muncul antara lain,
- Kesulitan mengenal kata dan menulis
- Munculnya penolakan untuk membaca
- Tidak menikmati sampai menolak berangkat ke sekolah karena merasa kesulitan
- Daya ingat lemah
- Kesulitan dalam melakukan koordinasi gerak
- Kesulitan dalam mengelola barang pribadi
- Masih cenderung buruk dalam membedakan bunyi serta identifikasi kata
- Anak menolak untuk membaca serta memiliki kemampuan membaca yang buruk (cenderung suka mengganti kata yang dibaca)
- Anak menolak untuk menulis dan memiliki kemampuan menulis yang buruk (bukan sekedar tulisannya yang buruk tapi kemampuan dalam menulisnya)
Sama seperti gangguan atau hambatan yang lain, solusi paling tepat adalah mendapatkan penanganan tepat dari multiprofesional. Segala gejala yang muncul akan diobservasi serta dilakukan pemeriksaan menyeluruh sehingga didapatkan hasil pemeriksaan yang akurat serta kedepannya mengetahui penanganan tepat seperti apa yang harus dilakukan. Kesulitan yang anak alami cenderung akan tetap ada jika orang tua hanya mengandalkan informasi dari internet atau media sosial tanpa adanya penanganan dari para tenaga profesional.
Seperti judulnya, disleksia istimewa. Anak mungkin kesulitan ketika harus berteman dengan huruf atau aktivitas yang berhubungan dengan huruf, tapi potensi anak pada bidang yang lain tidak lalu jadi hilang begitu saja. Anak memiliki potensi lain yang harus digali, ditemukan, serta diasah, bukan hanya oleh anak, tapi juga orang tua yang perlu mendampingi anak. Berikut tips mengasah potensi anak dengan disleksia ala ibu Oktariana,
- Kenali anak secara utuh, bukan sekadar mengenali tetapi sampai memahami bagaimana perasaan mereka atau apa yang mereka butuhkan.
- Tidak fokus pada kekurangan anak, akan sulit menemukan potensi luar biasa ketika orang tua sudah terpaku pada kekurangan yang anak miliki, berikan motivasi serta kekuatan pada anak agar kemampuan yang dimiliki dapat berkembang secara maksimal.
- Dukung anak untuk mampu mengembangkan kepercayaan diri mereka yang mungkin sempat redup karena berbagai hal yang harus mereka alami.
- Jadilah orang tua yang dianggap anak sebagai tempat teraman juga ternyaman mereka.
Hmm, rasanya sudah cukup panjang. Jadi, sampai jumpa lagi Mentari's! Sehat dan bahagia selalu<3
Referensi:
Americam Psychiatric Association. (2003). DIagnostic and statistical manual of mental disorder fifth edition (DSM-5). American Psychiatric Publishing
Penatalaksanaan Psikologi untuk Anak Bekebutuhan Khsus (Jilid 2). DIan Kristyawati Hasbara. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. 2022
Komentar
Posting Komentar