SIKAP ORANG TUA DAN PENCEGAHAN BULLYING (Oleh: Endang MC, M.Psi., Psikolog)

 Oleh : Endang MC, M.Psi., Psikolog


Berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13 Februari 2022, tercatat adanya kenaikan angka kasus bullying sebanyak 1.138 kasus kekerasan fisik dan psikis yang disebabkan oleh bullying. Selain itu, KPAI juga mencatat bahwa dalam kurus waktu 9 tahun, terhitung sejak 2011 ssampai 2020, terdapat 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak.

Ihsana Sabriani, dkk pada tahun 2020 dalam Children's World Survey di Indonesia, melakukan penelitian di 27 Kota atau Kabupaten dengan total 22.616 responden anak dengan kisaran usia 8-15 tahun. Menurut penelitian yang telah dilaksanakan tersebut, didapatkan hasil bahwa terdapat 60,6% dari seluruh responden mengaku dipanggil dengan nama yang buruk oleh teman sekolah, 49,6% dari seluruh responden mengaku dipukul oleh anak lain di sekolah, dan 52,5% dari seluruh responden mengaku dikucilkan di kelas.

Bullying diartikan sebagai perilaku yang berulang dan merugikan di mana perilaku ini dilakukan oleh satu individu atau sekelompok individu terhadap orang lain. Segala tindakan yang memiliki niat untuk menyakiti, merendahkan target secara fisik, verbal, atau emosional termasuk ke dalam kategori perilaku bullying. Lebih jelasnya, berikut ini terdapat beberapa kategori bullying yang telah dirangkum supaya dapat memberikan gambaran yang lebih jelas,

    1. Kontak Fisik

Perilaku bullying yang dilakukan melalui kontak fisik antara pelaku bullying dan korban bullying. Adapun beberapa contoh perilakunya adalah memukul, mendorong, merusak barang, dan mengunci seseorang di ruangan.

    2. Kontak Verbal

Perilaku bullying yang dilakukan menggunakan aktivitas verbal, seperti mengancam, mempermalukan, memberi panggilan nama, dan menyebar gosip.

    3. Non Verbal - Langsung

Perilaku bullying yang dilakukan secara langsung tetapi tanpa aktivitas fisik maupun verbal, seperti melihat dengan sinis dan menampilkan ekspresi yang merendahkan.

    4. Non Verbal - Tidak Langsung

    Perilaku bullying yang dilakukan secara tidak langsung dan tanpa aktivitas fisik maupun verbal, seperti mendiamkan seseorang, melakukan manipulasi dalam hubungan pertemanan juga persahabatan hingga berdampak pada retaknya hubungan tersebut.

    5. Cyber Bullying

Perilaku bullying yang dilakukan menggunakan media elektronik. Adapun beberapa contoh perilaku bullying pada kategori ini adalah video intimidasi, pencemaran nama baik di media sosial, dan melakukan pengancaman menggunakan media elektronik.

    6. Pelecehan Seksual

Perilaku bullying yang sudah melibatkan hal-hal berbau seksual, dapat berupa agresi fisik maupun verbal.

Selanjutnya, sama seperti fenomena lain yang terjadi, bullying juga muncul bukan tanpa sebab. Adapun beberapa hal yang berpotensi menjadi penyebab dari perilaku bullying yang muncul  pada interaksi antar individu, yaitu,

  • Pengaruh keluarga yang permisif terhadap kekerasan di mana orang tua yang dengan terbuka bertengkar di depan anak
  • Individu yang berusaha mencari perhatian karena merasa kurang mendapatkan perhatian di rumah, ingin memiliki kuasa atas suatu hal, atau memiliki keinginan untuk mendominasi teman
  • Pernah dibully oleh orang tua, saudara, atau orang lain berpotensi memunculkan sikap menyerang sebelum diserang dan cenderung membentuk individu yang kurang memiliki empati terhadap sesama
  • Pengaruh media nyatanya juga memberikan dampak melalui adegan kekerasan di berbagai media, seperti media sosial, film, game online, atau media massa
  • Lingkungan sekitar individu, salah satunya sekolah sebagai tempat interaksi antar siswa juga pengaruh manajemen dan pengawasan disiplin di sekolah
  • Adanya perasaan lebih kuat dibanding yang lain baik dari segi fisik, kekayaan, usia, maupun hal lainnya

Bullying dapat terjadi pada siapa saja, berbagai rentang usia pun tidak terikat oleh jenis kelamin. Namun, bagaimana jika bullying terjadi pada anak? Baik pelaku maupun korban atau bahkan orang tua maupun orang-orang lain yang berada di sekitar anak. Berikut ini dijelaskan dampak bullying dalam dunia anak, baik bagi korban, pelaku, maupun bystanders atau pengamat.

Dampak bagi Korban

Anak yang mendapatkan perilaku bullying dari orang-orang di sekitarnya berpotensi mengalami depresi, munculnya kecemasan (terutama ketika hendak berangkat ke sekolah), memiliki rasa percaya diri yang rendah, kesulitan tidur, hingga ada keinginan untuk self-harm atau menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri.

Dampak bagi Pelaku

Sementara anak sebagai pelaku pada tindakan bullying dapat memiliki rasa percaya diri yang tinggi hingga adanya kebutuhan kuat untuk mendominasi, berpandangan pro terhadap kekerasan dan perilaku agresi, kurang memiliki empati, memiliki toleransi yang rendah, cenderung mudah marah atau impulsif, dan risiko jangka panjang adanya kemungkinan penyalahgunaan obat juga munculnya kepribadian anti-sosial.

Dampak bagi Bystanders

Individu yang secara tidak langsung terlibat dalam tindakan bullying juga mengalami dampak-dampak, seperti adanya perasaan ketidakpastian, adanya anggapan bahwa bullying adalah perilaku wajar, merasa takut, merasa bersalah, dan mengalami kecemasan.

Kemudian, setelah mengetahui pengertian, penyebab, juga dampak dari tindakan bullying. Lalu, bagaimana untuk bisa terhindar dari perilaku ini? Berikut ini beberapa hal yang dapat orang tua lakukan untuk melindungi anak-anak mereka dari bullying,

  1. Melakukan komunikasi terbuka
  2. Memberikan pendidikan tentang empati
  3. Pengawasan positif terhadap anak
  4. Mendengarkan anak dengan empati
  5. Berkolaborasi dengan sekolah
  6. Bantu anak mengembangkan strategi

Sementara, bagaimana jika anak terlanjur menjadi pelaku bullying ke teman-temannya? Apa yang harus dilakukan orang tua dalam menghadapi anak yang terlanjur menjadi pelaku bullying? Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua, sebagai berikut,

  1. Mendengarkan cerita dari sudut pandang anak sekaligus membantu anak untuk memahami alasan dibalik perilaku bullying mereka
  2. Soroti perilaku yang tidak pantas dan tidak dapat diterima
  3. Tunjukkan empati dan kasih sayang dengan membagikan perasaan anak yang dibully
  4. Menerapkan konsekuensi tertentu untuk membantu mereka belajar dari situasi ini
  5. Mengajarkan anak untuk memperbaiki kesalahan
  6. Menghadapi dan mengenali segala perubahan perilaku yang positif, termasuk mengakui kesalahan
  7. Melakukan pendekatan dengan anak atau membicarakan dengan orang tua dan membuat kesepakatan agar berbuat baik
Selanjutnya adalah ketika anak menjadi korban dalam tindakan bullying. Beberapa cara di bawah ini untuk menghadapi korban bully, diantaranya adalah,
  1. Tanggapi kejadian itu dengan serius sekaligus menunjukkan empati
  2. Hargai dan berterimakasihlah karena telah melaporkan tindak bullying
  3. Bantu anak yang dibully untuk membela diri sendiri dengan mengatakan bahwa mereka dapat menyampaikan jika mereka tidak suka ketika dikerjai oleh teman
  4. Tanyakan tentang apa yang dapat  dilakukan untuk membuat anak tersebut merasa aman
  5. Bicara dengan setiap anak yang terlibat secara terpisah dan mengambil tindakan pada pelaku bullying
  6. Petimbangkan peran atau pengaruh kelompok sebaya
  7. Tindak lanjuti secara teratur dengan anak tersebut mengenai kemajuan yang dibuat mengenai masalah ini setelahnya
  8. Jika memang diperlukan, carilah bantuan ke pihak eksternal

Pada intinya, orang tua sudah seharusnya memberikan pendampingan pada anak, baik untuk melindungi mereka dari perilaku bullying, ketika anak sudah terlibat sebagai pelaku, maupun ketika anak telah menjadi korban bullying.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBUH LEWAT HIPNOTERAPI, EMANG BISA?

Rahasia yang Wajib Diketahui! Lika-Liku Perkembangan Remaja yang Sering Diabaikan