Benarkah Pelajar Sering Menunda Tugas? Yuk, Pahami Prokrastinasi Akademik dari Sisi Psikologi

 “Ah, ngerjainnya nanti saja deh, deadline masih lama juga.”

Pernahkah Mentari's mendengar kalimat tersebut? Atau justru seringkali mengucapkannya? Kalimat yang mungkin terdengar ringan namun ini bisa jadi sinyal adanya prokrastinasi akademik, lhoo, Mentari's. Di mana kecenderungan seseorang untuk menunda tugas akademik meski tahu dampaknya negatif.

Bagi pelajar, prokrastinasi seringkali muncul saat tugas terasa sulit, waktu terasa sempit, atau motivasi yang menurun. Namun, dibalik semua itu, terdapat interaksi kompleks antara emosi, pola pikir, dan lingkungan yang memengaruhi keputusan seseorang untuk berpikir “sudahlah, nanti saja.”


Menurut Saman (2017) prokrastinasi bukan hanya soal malas. Ini merupakan perilaku sadar di mana seseorang sengaja menunda pekerjaan, sering kali untuk menghindari stres atau tugas yang dirasa membosankan, padahal kalau semakin ditunda, tekanan yang dirasa justru akan makin besar. Benar begitu, Mentari's?


Dari sudut pandang psikologi, prokrastinasi merupakan bentuk kegagalan regulasi diri (self-regulatory failure), yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol dorongan jangka pendek untuk kepuasan sesaat, padahal tahu konsekuensinya jangka panjang.


Apa Sebenarnya Penyebab Prokrastinasi Akademik?


Penelitian menunjukkan bahwa penyebab prokrastinasi bersifat multidimensi, atau bukan sekadar “malas.” Ada faktor kognitif, emosional, dan sosial yang saling berhubungan yang membentuk perilaku “prokrastinasi” tersebut. 


Pertama, Faktor Internal

Kurangnya Self-Regulated Learning pada seseorang membuatnya tidak mampu merencanakan, mengontrol, dan mengevaluasi proses belajar. Oleh sebab itu, ada beberapa bentuk faktor internal yang membuat seseorang mengalami prokrastinasi, yaitu :

  • Perfeksionisme, seperti takut akan hasil tidak sempurna, sehingga menunda memulai tugas.
  • Rendahnya Self-Efficacy, seperti merasa tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
  • Emosi Negatif, seperti cemas, bosan, dan takut gagal.
  • Kecanduan Digital, seperti distraksi dari media sosial yang memuaskan secara instan.

Kedua, Faktor Eksternal

Selain faktor internal, ada juga beberapa faktor eksternal yang bisa menjadi penyebab prokrastinasi, yaitu :

  • Tekanan akademik dan beban tugas yang berlebih.
  • Lingkungan teman sebaya yang permisif.
  • Kurangnya dukungan emosional dari dosen dan keluarga.
  • Keterbatasan fasilitas belajar dan pembelajaran daring.
Yuk, Mari Pahami Soal Dampak dari Prokastinasi!

Perlu Mentari's ketahui kalau dampak dari prokrastinasi itu tidak hanya membuat kita semakin dikejar deadline saja. Namun, dapat juga mempengaruhi kesehatan mental kita yang melakukannya. Menurut Putri, dkk (2021) mahasiwa dengan manajamen waktu yang buruk itu lebih rentan mengalami stres akademik, terutama sejak pembelajaran daring. Selain itu juga, prokastinasi sendiri juga dapat menyebebakan beberapa hal, yaitu :

  1. Penurunan produktivitas dan motivasi.
  2. Kecemasan dan rasa bersalah.
  3. Gangguan tidur akibat kebiasaan lembur.
  4. Hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri
Berikut Beberapa Cara untuk Mengatasi Prokastinasi Akadamik dan Mencegah Semua Hal Buruk Terjadi

Mengatasi prokrastinasi bukan hanya sekedar “menjadi rajin” saja, tetapi juga memahami pola pikir dan emosi yang memicunya. Ada beberapa strategi yang bisa kita lakukan  untuk mengatasi perilaku prokrastinasi:
  1. Latihan Regulasi Emosi. Emosi negatif seperti kecemasan, bosan, atau takut salah seringkali membuat otak memilih aktivitas yang memberi kenyamanan sesaat. Emotion Regulation Skill Training membantu pelajar mengenali emosi negatif dan mengubahnya menjadi dorongan positif untuk bertindak.
  2. Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Dalam CBT, pelajar diajak untuk menantang pikiran untuk menunda dan menggantinya dengan pemikiran realistis seperti “Aku bisa mulai dari bagian kecil dulu.", “Lebih baik 10% selesai hari ini daripada tidak sama sekali.” CBT juga membantu membentuk perilaku baru yang lebih adaptif, seperti membuat rencana harian atau membatasi distraksi digital.
  3. Self-Monitoring dan Reward System. Dengan membuat “to-do list” lalu beri tanda setiap kali  selesai mengerjakan tugas, dan beri hadiah kecil untuk diri sendiri dapat memperkuat motivasi intrinsik. Hadiah kecil setelah menyelesaikan tugas bisa memperkuat perilaku positif. Namun jangan hukum diri kita sendiri apabila mengalami kegagalan. 
  4. Membangun Lingkungan Positif. Teman sebaya yang disiplin dapat menjadi pengingat dan dukungan sosial untuk tetap produktif. Lingkungan berperan penting dalam menjaga konsistensi perilaku. Menurut Maghfiroh dkk (2022) pelajar yang dikelilingi teman dengan motivasi tinggi cenderung lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya. Cara menerapkannya: 
  • Buat kelompok belajar atau study buddy. Gunakan sistem accountability partner, atau saling lapor kemajuan setiap hari. Hindari lingkungan yang normalisasi kebiasaan “kerja last minute.”
  • Bangun Growth Mindset. Menurut Dweck (2006), growth mindset membuat seseorang melihat kegagalan sebagai proses belajar, bukan tanda ketidakmampuan. Ketika seseorang percaya bahwa kemampuan bisa ditingkatkan lewat usaha, ia lebih berani memulai dan tidak takut salah.
  • Kita bisa berlatih dengan mengganti “aku nggak bisa” menjadi “aku belum bisa.”, fokus pada proses, bukan hasil akhir, rayakan setiap kemajuan kecil.

Dapat Mentari's ketahui bahwa prokrastinasi akademik bukan sekadar soal malas, tapi berkaitan erat dengan regulasi diri, motivasi, dan keseimbangan emosional. Pelajar yang mampu mengatur waktu dan emosi dengan baik cenderung lebih produktif dan jarang menunda.

Ingat yaa, Mentari's, langkah kecil seperti memulai lebih awal, menulis to-do list, atau mengurangi distraksi bisa membuat perubahan besar dalam rutinitas akademik Mentari's. Karena melawan prokrastinasi bukan tentang menunggu waktu yang tepat tetapi tentang berani  memulai sekarang juga.


Sumber :

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W.H. Freeman.

Dweck, C. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Ferrari, J. R. (2010). Still procrastinating: The no regrets guide to getting it done. John Wiley & Sons.
Jarum, N., & Ayudiari, S. (2022). Academic procrastination among English education students in completing academic writing assignments.

Maghfiroh, S., Sumiati, & Zulaihati, S. (2022). Pengaruh self-regulated learning, lingkungan teman sebaya, dan task aversiveness terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa.

Putri, D. A., Rahmawati, I., & Widiasari, I. (2021). Hubungan antara manajemen waktu dan stres akademik pada mahasiswa selama pembelajaran daring. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 8(2), 115–126.

Saman, A. (2017). Prokrastinasi akademik mahasiswa dan faktor-faktor penyebabnya.

Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the priority of short-term mood regulation: Consequences for future self. Social and Personality Psychology Compass, 7(2), 115–127.

Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia yang Wajib Diketahui! Lika-Liku Perkembangan Remaja yang Sering Diabaikan

Kenapa Gen Z Gampang Banget Overthinking?